Ilmuwan Indonesia Olah Nipah Jadi BBM Biopremium
Pepohonan nipah di semua pesisir pantai di wilayah Kabupaten Rohil mulai dari Kecamatan Pasirlimau Kapas, Kubu, Bangko, dan Sinaboi serta di sepanjang Sungai Rohil, sepintas mata memandang hanyalah sekelompok tumbuh-tumbuhan yang berfungsi sebagai tanaman pelindung pantai. Selain itu, setiap helai daunnya yang dirajuk menjadi satu dipergunakan untuk atap rumah.
NAMUN bila dicermati lebih mendalam lagi, ternyata pohon nipah memiliki kandungan nabati yang dapat menjadi sumber bahan bakar minyak (BBM) non-fosil, dengan masa depan yang ramah lingkungan. Terilhami dari sering mengikuti pengajian yang menyebutkan di balik tanaman hijau terselip suatu cahaya yang memancar terang-benderang, membuat Sopyan Hadi, putra Rohil kelahiran 1975 ini mulai berbuat sesuatu. Salah satu karya yang coba ditorehkannya yakni lewat teknologi tepat guna seperti biofuel ethanol mangrove nipah, sebagai energi terbaru non-fosil untuk menggantikan besin maupun minyak tanah serta avtur. ‘’Dulu memang begitu. Saya selalu dipandang sebelah mata hanya untuk mewujudkan ini. Sekarang ini, sudah terwujud,’’ kata Sopyan Hadi.
Ditemui di kediamannya, Jalan Tanahputih, Kecamatan Bangko, ruangan labor yang dipergunakan untuk meneliti dan sekaligus memproses nipah menjadi biopremium ini, ternyata sangat sederhana sekali. Ruangan labornya yang hanya berukuran sekitar dua kali tiga meter di belakang rumahnya, sempit lantaran dipadati dengan peralatan-peralatan dehidrasi serta lainnya. Uniknya lagi, semua peralatan yang dipergunakannya semuanya hasil buatannya sendiri.
Sistim pengolahannya masih sangat sederhana. Dimana, beberapa tandan pohon nipah dipotong dan cairan yang keluar ditampung dengan menggunakan alat penampung, yang biasanya digunakan adalah botol minuman mineral. Untuk satu tandan, mampu menghasilkan cairan bening satu liter. ‘’Itu baru satu tandan. Sedangkan satu pohon nipah memiliki banyak tandan,’’ kata Sopyan Hadi sambil memperlihatkan cairan tandan nipah yang sudah ditampung di jerigen berukuran 20 liter.
Proses selanjutnya yakni fermentasi melalui proses kimia. Pengolahan secara kimiawi ini terbagi dalam dua bagian masing-masing dehidrasi untuk BBM biopremium dan untuk biokerosin atau minyak tanah. Proses pengolahan untuk menjadi BBM masa depan ini hanya memakan waktu sekitar 15 hingga 30 menit, tergantung dari banyak atau sedikitnya bahan baku yang diolah. ‘’Yang lama itu waktu mengumpulkan cairan dari tandan pohon nipah tang mencapai antara 15 hingga 20 hari,’’ ujarnya.
Setelah menghasilkan biopremium dari pohon nipah ini, pria yang sehari-hari yang bekerja sebagai PNS di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rohil ini mulai melakukan uji coba. Kegiatan uji coba yang pertama kali dilakukan pada sepeda motornya. Atas keberhasilannya, suami dari Sherley Wiguna Irsanti ini menerima penghargaan Bioenergi Mangrove Nipah sebagai BBM non-fosil masa depan dari Provinsi Riau.
Tidak puas dengan sepeda motor, ayah dua anak ini melakukan uji coba pada kendaraan roda empat. Uji coba yang dilakukan di Jakarta ini, mendapat respon positif dari Menko Ekuin Sri Mulyadi dan Mendagri Mardiyanto. Serta disaksikan oleh Gubernur Riau Rusli Zainal dan Bupati Rohil Annas Maamun.
Tak pelak lagi, tamatan Magister Teknik ITB ini kembali memperoleh penghargaan dari Pemerintah Provinsi Riau kategori Setia Lestari Bumi serta tingkat nasional kategori Keanekaragaman Hayati Nasional serta sejumlah penghargaan lainnya. ‘’Sesuai janji saya, dimana saya akan ekspos kalau hak paten sudah ada. Sekarang ini, hak paten dari Depkum HAM sudah saya miliki,’’ kata Sopyan Hadi.
Untuk melakukan pengolahan yang berkapasitas besar terlebih mampu memenuhi keperluan Kabupaten Rohil maupun Provinsi Riau, tentu memerlukan bantuan Pemkab Rohil maupun peran serta dari pihak ketiga. Hal tersebut sangat diperlukan mengingat finansial yang dimiliki Sopyan Hadi sangat terbatas. Di sisi lainnya, bila hasil risetnya benar-benar dapat diwujudkan dalam kapasitas yang cukup besar, setidaknya mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Dimana, masyarakat hanya cukup menjual cairan bening tandan nipah yang ditampung itu.
‘’Sistemnya, kita hanya tinggal membeli cairan dari tandan pohon nipah. Lagi pula, pohon nipah di pesisir pantai ini sangat banyak. Kalau karya ini dapat ditumbuhkembangkan berkapasitas besar, maka jelas ekonomi masyarakat merasa terbantu. Alhasil, pohon nipah yang semula sebagai tanaman terbuang itu dapat dimanfaatkan. Hanya saja, terus terang saja, kita tidak punya dana yang cukup untuk itu. Untuk itu, kita berharap agar Pemkab Rohil dan Provinsi Riau dapat mencurahkan perhatiannya di sektor ini,’’ harapnya