Musik Indonesia Dominasi Malaysia
Jika kemarin tanggal 18 Maret 2007 petang hari berada di Malaysia, dan kebetulan melihat acara Melodi di TV3, mungkin akan sedikit tercengang! Pasalnya bukan karena sesuatu yang menghebohkan, seperti berita “seks dan percabulan”, tetapi tercengang karena aku tergelitik oleh kampanye “kempen: bahasa malaysia nya” menggugah kesadaran dunia perlaguan setempat sedang terkena krisis. Di Malaysia, tradisi kampanye yang seperti itu sangatlah bagus dan efektif. Karena memang, semua corong informasi, hampir seluruhnya dipegang oleh negara. Disatu sisi memang sangat bagus untuk menjaga stabilitas, tetapi disisi lain mengandung sisi negatif, ketertutupan menerima informasi dari luar.
Saya tidak ingin mengulas bagaimana Malaysia mengurus seluruh aspek kehidupan warga negaranya. Tetapi disini, saya ingin mengutarakan pendapatku mengenai budaya kampanye yang dilakukan di Malaysia. Itu pun menurut perspektifku, subjektivitasku dan seluruh pandangan “keakuan” yang lainnya. Jika memang salah menurut Anda tentang pandangan saya, maka menurut saya mungkin jadi benar. Tetapi jika menurut Anda saya kurang bijak, maka menurut saya sangat bijak. Benar salah, bijak atau kerdil, saya pikir disini bukan tempatnya untuk diperdebatkan. Namanya saja pandangan subjektif, jadi “keakuan”nya sangat tinggi.
Dalam selingan acara melodi TV3 di atas, terselip kampanye kira-kira seperti ini; “Kenapa kita lebih menyukai lagu negeri seberang? Kenapa diantara kita tidak banyak mencintai lagu sendiri? Kenapa kita tidak… dan tidak yang lainnya”. Saya tidak ingin mengatakan, bahwa kampanye tersebut ditujukan untuk Indonesia. Tetapi dari data empirik di Malaysia, memang lagu-lagu dari Indonesia banyak mendominasi di sini. Dari mulai top hit di TV sini, maupun top hit acara radio yang ada di sini. Sebagai orang Indonesia yang ada di Malaysia, saya merasa “GR” (Gede Rasa) bahwa kampanye itu ditujukan untuk dunia permusikkan Indonesia.
TV3 dalam hal ini, yang menggelar kampanye tersebut tidak bisa disalahkan menyudutkan musik Indonesia! Wong mereka mengatakan “negeri seberang” kok, bukan Indonesia! Bisa saja sebenarnya mereka berkelit, saya mengatakannya negeri seberang, ya bisa Singapura, Brunei, Thailand, China, Amerika dan lain-lain. Jika alasan itu, maka saya tidak bisa berkata apa-apa. Tetapi jika Anda, TV3 mengatakan negeri seberang, maka saya pun wajar GR, karena Indonesia merupakan diantara negeri seberang yang Anda maksud. Singkatnya, karena Indonesia bukan Malaysia, ia nggak?
Anggap saja benar, secara empirik dunia permusikkan Indonesia banyak diekspor ke Malaysia. Dan memang ini tidak dapat dipungkiri, sekalipun mau mungkir se-mungkir-mungkirnya. Dari acara top hit yang saya sebutkan di atas, dan acara konser musik yang banyak diadakan di Malaysia, memang hampir selalunya mengundang artis dari Indonesia. Saya pun heran, kenapa lagu Indonesia banyak disukai disini? Apakah orang Malaysia, terutama para pemudanya sudah tidak mencintai musik sendiri? Apakah gerangan yang sedang terjadi, dengan musik di Malaysia. Dalam hal ini, mungkin pendapat saya hampir sama dengan pendapat pemerhati musik Malaysia.
Mari kita telusuri sedikit demi sedikit, sesuai dengan kemampuanku menganalisis. Pijakan pertama adalah bahwa musik itu universal. Lebih jauhnya lagi, bahwa seni itu universal. Menurut kawanku, hidup tanpa musik memang tidak indah. Musik apa saja, baik dangdut, pop, jazz, nasyid dan lain-lain. Menurut penggemarnya, dia dapat membuat stigma hidup menjadi lebih dinamis! Jika orang hidup tidak menyukai musik (seni), maka secara perlahan dia tengah mengubur dirinya dari keuniversalan hidup.
Karena alasan universalisme musik, maka sekalipun di Malaysia, lagu Indonesia bisa diterima oleh siapa saja yang menyukainya. Permasalahan selanjutnya, berada di perkembangan musik malaysia sendiri. Kenapa mereka kurang disukai oleh rakyatnya sendiri? Dalam hal ini, saya tidak mempunyai kapasitas menjelaskannya. Tetapi sebagai orang Indonesia, saya juga mengenal Amy dengan Isabella-nya, mengenal Siti Nurhaliza dengan lagu-lagu beridentitas melayu yang saya sukai. Saya pun takjub melihat Sheila Madjid. Dengan mengenal begitu saya tidak lantas mengatakan luntur dan tidak menyukai lagu Indonesia. Saya cinta lagu Indonesia yang bagus-bagus (menurut saya), begitupun musik dari Malaysia, atau sekalipun musik daerah yang bahasanya saja saya tak faham.
Aku menyukai lagu batak yang melankolis, aku menyukai lagu India yang kadang sering mengharukan, ketika menyuarakan ekspresi cinta, aku menyukai musik Aceh yang penuh dengan heroik dan kemanusiaan. Singkat kata, aku menyukai lagu apapun yang aku suka, sekalipun aku tidak memahami bahasanya. Kok bisa begitu? menurutku jawabannya bisa, mungkin jawaban ini benar karena musik itu universal. Dari sini, maka sangat wajar, apabila orang Malaysia menyukai lagu-lagu dari Indonesia. Apa lagi secara bahasa dan budaya, Malaysia dan Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda. Jika kita melihat kepada rumpun melayu, Indonesia dan Malaysia masih satu rumpun.
Jika lagu dilihat dari permintaan pasar dan selera, lagu yang tidak diminati berarti memang tidak “marketable”. Itu artinya, bahwa perkembangan musik Malaysia bisa jadi kurang mengikuti perkembangan pasar pendengarnya. Di negeri sendiri saja sudah tidak dicintai, apalah lagi di ekspor ke negeri orang? Perjalanan ini memang sedikit berbeda dengan Indonesia. Pemusik, grup band atau apapun namanya untuk bidag seni di Indonesia, mereka relatif rata-rata diterima di negeri sendiri. Makanya agak susah jika Malaysia mengklaim bahwa mereka yang pernah tenar adalah berasal dari Malaysia. Ingatan orang Indonesia agak kuat dalam hal ini, karena dibalut oleh bahasa dan budaya yang sangat kental.
Saya juga berharap, dunia musik Malaysia mampu melahirkan artis sekaliber Siti Nurhaliza, Sheila Madjid, Amy dan lain-lain. Saya pikir, mereka sangat diterima di Indonesia, sekalipun mereka berasal dari Malaysia. Mereka mampu menyajikan kualitas persembahan yang menurutku sangat Malaysia. Dengan begitu, tolong diperhatikan, jika melalukan kampanye (kempen), budaya menyudutkan atau istilah saya, “kempen gaya katak”, meloncat sendiri dengan menginjak orang lain, harus diminimalisir. Menurutku, kampanye gaya katak itu tidak universal. Apalagi yang dikampanyekan adalah musik, yang mempunyai nilai-nilai universal?
Kata anak muda di Indonesia… Ayo Malaysia…. kamu bisa!!!